Tekan Enter untuk mencari

Enam Bulan Berjalan, Program JAPFA for Kids di Kukar Catat Peningkatan Gizi Anak hingga 57 Persen

Foto: HR Manager PT Suri Tani Pemuka, Agus Tri Wahyudi

Akupedia.id, Tenggarong – Program JAPFA for Kids yang dijalankan PT Suri Tani Pemuka (STP) menunjukkan hasil signifikan dalam mendukung upaya penurunan angka stunting dan malnutrisi pada anak di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar). Berdasarkan hasil evaluasi selama enam bulan pelaksanaan, dari 121 anak yang menjadi sasaran program, sekitar 57 persen di antaranya mengalami peningkatan status gizi.

HR Manager PT Suri Tani Pemuka, Agus Tri Wahyudi, menyampaikan bahwa perusahaan tidak hanya berfokus pada kegiatan bisnis, tetapi juga memiliki komitmen untuk berkontribusi dalam membantu pemerintah daerah maupun negara, khususnya dalam peningkatan gizi anak.

Ia menegaskan, keterlibatan PT STP dalam program tersebut merupakan bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan, sekaligus implementasi nilai bahwa perusahaan harus tumbuh bersama dan sejajar dengan masyarakat sekitar, bukan semata-mata mengejar keuntungan bisnis.

“Kami ingin menunjukkan bahwa perusahaan tidak hanya berorientasi pada bisnis, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi masyarakat sekitar. Karena itu, program ini kami wujudkan secara konkret,” ujarnya.

Ia menjelaskan, program JAPFA for Kids dirancang dengan konsep pembinaan sejak dini, terutama bagi anak-anak usia sekolah dasar, guna membentuk kebiasaan hidup sehat dan disiplin.

“Harapan kami sederhana, membangun kebiasaan sejak dini. Karena membentuk perilaku ketika sudah dewasa itu jauh lebih sulit,” terangnya.

Program JAPFA for Kids memiliki dua fokus utama. Pertama, pembiasaan empat pilar gizi seimbang yang dilaksanakan setiap minggu di sekolah melalui kegiatan makan bersama, cuci tangan pakai sabun, pemeriksaan kebersihan kuku, serta edukasi gizi oleh guru.

Kedua, dilakukan intervensi khusus bagi siswa dengan status gizi di bawah normal berupa pemberian telur setiap hari selama enam bulan.

“Telur diberikan dalam bentuk mentah, sebanyak tujuh butir setiap minggu, dan diserahkan kepada orang tua siswa. Telur tersebut kemudian diolah menjadi bekal anak ke sekolah dan dimonitor oleh guru,” jelasnya.

Monitoring juga dilakukan secara ketat untuk memastikan bantuan tepat sasaran. Apabila siswa tidak membawa bekal selama tiga hari berturut-turut, distribusi telur akan dihentikan sementara.

“Kami melakukan monitoring agar telur benar-benar dikonsumsi oleh anak yang bersangkutan, bukan oleh anggota keluarga lainnya,” tambahnya.

Bagi siswa yang memiliki alergi telur atau mengalami kejenuhan, pihak sekolah dan orang tua diberikan fleksibilitas untuk mengganti asupan dengan protein hewani lain, seperti ikan atau ayam.

Yudi juga menambahkan, keterlibatan orang tua menjadi bagian penting dalam program ini agar mereka memahami kondisi gizi anak dan turut berperan aktif dalam perbaikan pola makan di rumah.

“Kami ingin orang tua menyadari bahwa peningkatan gizi anak tidak bisa hanya dibebankan kepada sekolah atau perusahaan, tetapi memerlukan kerja sama semua pihak,” ujarnya.

Pada tahap awal, program JAPFA for Kids melibatkan delapan sekolah dasar, terdiri dari tujuh sekolah di Kecamatan Loa Kulu dan satu sekolah di Kecamatan Tenggarong. Sekolah-sekolah tersebut bergabung secara sukarela dan berkomitmen mengikuti seluruh rangkaian program.

Ke depan, ia berharap program JAPFA for Kids dapat terus berlanjut dan berkembang, sejalan dengan aktivitas bisnis perusahaan, sehingga manfaatnya dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat.

(Ara)

Rekomendasi

Pasang Iklan di sini