Akupedia.id, Samarinda – Kenaikan harga emas perhiasan menjadi salah satu faktor utama yang mendorong inflasi di Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) pada Februari 2026. Di tengah meningkatnya permintaan menjelang Ramadan dan Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN), tekanan harga dari kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya tercatat cukup signifikan.
Berdasarkan rilis resmi Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kaltim, inflasi Februari 2026 tercatat sebesar 0,60 persen secara bulanan (month to month/mtm). Secara tahunan (year on year/yoy), inflasi Kaltim berada pada level 4,64 persen, lebih rendah dibandingkan inflasi nasional sebesar 4,76 persen.
Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mencatat inflasi 2,66 persen (mtm) dengan andil 0,20 persen terhadap inflasi bulanan. Tekanan ini terutama dipicu oleh lonjakan harga emas perhiasan yang mengikuti tren kenaikan harga emas global. Rata-rata harga emas pada Februari 2026 tercatat sekitar Rp3.085.000 per gram.
Kepala Perwakilan BI Kaltim, Jajang Hermawan, menjelaskan bahwa kenaikan harga emas memberikan kontribusi nyata terhadap pembentukan inflasi Februari.
“Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mengalami peningkatan yang cukup tinggi, terutama dipengaruhi oleh kenaikan harga emas perhiasan. Hal ini sejalan dengan tren harga emas global yang masih meningkat,” ujarnya dalam siaran pers, Senin (2/3/2026).
Selain emas, tekanan inflasi juga berasal dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang mencatat inflasi 0,97 persen (mtm) dengan andil 0,29 persen, seiring meningkatnya permintaan komoditas pangan menjelang Ramadan dan perayaan Imlek.
Meski demikian, tekanan inflasi yang lebih tinggi berhasil tertahan oleh penurunan harga pada kelompok transportasi, terutama setelah turunnya harga BBM non-subsidi sekitar 3–4 persen pada awal Februari 2026.
Secara keseluruhan, BI menilai inflasi Kaltim tetap dalam kondisi terkendali. Penguatan pengendalian inflasi terus dilakukan melalui sinergi Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) dengan implementasi strategi 4K, termasuk pelaksanaan gerakan pangan murah dan operasi pasar di berbagai kabupaten/kota.
“Dengan sinergi yang kuat, kami optimistis stabilitas harga di Kaltim tetap terjaga selama Ramadan dan menjelang Idulfitri,” tutup Jajang.
Penulis: Aulia Rahmatul Azizah





