Akupedia.id, Kutai Kartanegara — Wisata Batu Ampar di Desa Loa Raya, Kecamatan Tenggarong Seberang, kian menjadi destinasi favorit bagi wisatawan yang ingin menikmati alam sekaligus merasakan pengalaman berkemah di tengah tebing batu dan pepohonan rimbun. Sejak dibuka pada 2022, kawasan ini tidak hanya menjadi tempat rekreasi, tetapi juga simbol perubahan desa dari wilayah agraris menjadi pusat edukasi berbasis ekowisata.
Kepala Desa Loa Raya, Martin, menjelaskan bahwa pengembangan Batu Ampar bukan semata untuk menarik wisatawan, melainkan juga untuk membangun kesadaran masyarakat tentang pentingnya pengelolaan sumber daya alam secara berkelanjutan.
“Tujuan kami bukan sekadar menghadirkan tempat swafoto, tapi menjadikan Batu Ampar sebagai ruang belajar bersama tentang konservasi lingkungan, ekonomi sirkular, dan penguatan komunitas,” ujarnya, Jumat (4/7/2025).
Martin menambahkan, sejak awal, warga dilibatkan penuh dalam pengelolaan destinasi ini—mulai dari tahap perencanaan, operasional, hingga pemeliharaan kawasan wisata. Hal itu menjadikan Batu Ampar sebagai model wisata yang berbasis partisipasi masyarakat.
“Konsep wisata ini lahir dari kebutuhan warga akan tempat rekreasi yang produktif, ramah lingkungan, dan cocok untuk keluarga,” katanya.
Seiring perkembangan, muncul berbagai inisiatif ekonomi baru di sekitar kawasan wisata. Warga mulai membuka homestay, menjual produk herbal lokal, hingga menyediakan paket edukasi lingkungan bagi sekolah dan komunitas yang berkunjung.
“Sekarang warga mulai melihat wisata ini bukan sekadar tempat hiburan, tapi sumber penghidupan baru yang bisa dikembangkan bersama,” tambah Martin.
Ke depan, pemerintah desa bersama masyarakat juga berencana membangun kawasan kebun konservasi yang menampilkan tanaman obat khas Kutai serta praktik pertanian ramah lingkungan yang bisa menjadi daya tarik tambahan bagi pengunjung.
Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pariwisata Kukar, Arianto, memberikan apresiasi tinggi atas inisiatif warga Loa Raya yang berhasil mengembangkan destinasi wisata secara mandiri. Ia menilai Batu Ampar sebagai contoh konkret bagaimana desa dapat menjadi motor penggerak utama dalam ekowisata.
“Kalau biasanya desa menunggu program datang dari atas, Loa Raya justru bergerak dari bawah. Ini menarik karena menggabungkan wisata, pemberdayaan, dan pelestarian,” ungkap Arianto.
Dispar Kukar, lanjutnya, siap memberikan dukungan melalui pelatihan pemandu lokal, strategi promosi digital, serta penyusunan standar layanan wisata berbasis pengalaman dan edukasi. Bahkan, Batu Ampar akan diusulkan sebagai salah satu destinasi prioritas berbasis komunitas untuk tahun 2026.
“Batu Ampar bisa menjadi destinasi unggulan bukan karena besar, tapi karena autentik dan edukatif. Ini yang dicari wisatawan hari ini — wisata yang punya makna,” jelasnya.
Arianto berharap semangat yang ditunjukkan masyarakat Loa Raya dapat menginspirasi desa lain di Kukar untuk menggali potensi lokal masing-masing.
“Batu Ampar menunjukkan bahwa desa bukan hanya penerima manfaat, tapi aktor utama perubahan. Dengan kolaborasi dan semangat seperti ini, Kukar bisa jadi contoh keberhasilan wisata berbasis komunitas di Kalimantan Timur,” tutupnya. (Adv/Arf)