Tekan Enter untuk mencari

Tradisi Mabbaca-baca, Warisan Budaya Suku Bugis yang Tetap Hidup Saat Lebaran

Foto: Suasana makan bersama dalam tradisi mabbaca-baca di salah satu rumah warga.

Akupedia.id – Perayaan Hari Raya Idulfitri tidak hanya identik dengan salat Id dan silaturahmi, tetapi juga diwarnai dengan beragam tradisi khas di berbagai daerah. Salah satunya adalah tradisi mabbaca-baca yang masih dijaga oleh masyarakat Suku Bugis.

Mabbaca-baca merupakan ritual doa bersama yang biasanya dilakukan menjelang atau saat Hari Raya Idulfitri. Dalam tradisi ini, keluarga besar berkumpul untuk membacakan doa sebagai bentuk rasa syukur sekaligus memohon keselamatan dan keberkahan. Kegiatan ini umumnya dipimpin oleh tokoh agama atau anggota keluarga yang dituakan.

Prosesi mabbaca-baca diawali dengan penyajian berbagai hidangan khas. Beberapa di antaranya seperti Ketupat, Burasa, Ayam masak lengkuas, serta aneka kue tradisional seperti Bolu cukke dan Barongko. Hidangan tersebut tidak hanya untuk disantap bersama, tetapi juga memiliki makna simbolis sebagai ungkapan syukur atas rezeki yang telah diberikan.

Salah satu warga Suku Bugis yang tinggal di Loa Tebu, Tenggarong, Suharni, mengatakan tradisi ini masih rutin dilakukan keluarganya setiap Lebaran, meski telah lama merantau dan tinggal di Kalimantan Timur (Kaltim).

“Walaupun kami sudah tidak tinggal di kampung halaman, tradisi ini tetap kami lakukan. Biasanya kami sekeluarga kumpul, siapkan makanan seperti ketupat, burasa, ayam, dan kue-kue, lalu dibacakan doa bersama,” ujarnya.

Ia menambahkan, mabbaca-baca menjadi momen penting untuk mempererat hubungan kekeluargaan sekaligus menjaga warisan budaya agar tidak hilang di perantauan.

Sementara itu, salah seorang warga lokal, Rahmat, mengaku tradisi tersebut juga dinantikan masyarakat sekitar, terutama saat momen open house.

“Setiap lebaran memang kami nunggu open house. Menunya lengkap, dan ini setahun sekali bisa merasakan masakan khas Bugis,” ucapnya.

Menurutnya, keberadaan tradisi mabbaca-baca tidak hanya memperkuat nilai spiritual, tetapi juga menjadi ajang kebersamaan lintas masyarakat, termasuk warga non-Bugis yang turut merasakan suasana kekeluargaan.

Di sejumlah daerah, termasuk wilayah perantauan seperti di Kaltim, tradisi ini tetap dilestarikan oleh masyarakat Bugis sebagai bagian dari identitas budaya. Meski telah mengalami penyesuaian dengan perkembangan zaman, esensi mabbaca-baca sebagai sarana memperkuat nilai spiritual dan kebersamaan tetap terjaga.

Dengan terus diwariskan dari generasi ke generasi, mabbaca-baca menjadi bukti bahwa kekayaan budaya lokal tetap hidup dan relevan di tengah modernisasi, khususnya dalam momentum Hari Raya Idulfitri.

Penulis: Aulia Rahmatul Azizah

Rekomendasi

Pasang Iklan di sini