Dari Tongkrongan ke Barak Latihan: Cerita Aidil Kejar Mimpi Jadi Prajurit TNI AD

Foto: Muhammad Aidil Ilmi, salah satu peserta Binlat Bintang Pengabdian asal Muara Muntai.

Akupedia.id, Kutai Kartanegara – Berawal dari pesan singkat di grup tongkrongan, semangat seorang pemuda berusia 18 tahun asal Kecamatan Muara Muntai, Muhammad Aidil Ilmi, perlahan tumbuh dan menemukan jalannya.

Informasi sederhana yang dibagikan oleh teman-teman sepergaulannya itu menjadi titik awal Aidil menapaki langkah menuju cita-cita masa kecilnya: menjadi prajurit Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI AD).

Aidil yang kini duduk di bangku Kelas 12 IPS Madrasah Aliyah mengaku telah memendam impian tersebut sejak kecil. Baginya, pasukan Angkatan Darat memiliki daya tarik tersendiri sebagai simbol ketangguhan, keberanian, dan pengabdian kepada negara.

“Sejak kecil saya memang bercita-cita jadi tentara Angkatan Darat. Menurut saya pasukan darat itu keren, gagah, apalagi pasukan khususnya,” ujarnya.

Kesempatan itu datang ketika ia mengetahui adanya kegiatan Bimbingan dan Latihan (Binlat) Bintang Pengabdian yang diselenggarakan Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar).

Baca juga  Dishub Kukar Akan Tambah 2 Bus Untuk Sekolah Pada Tahun 2024

Dari sekitar sepuluh orang dalam grup tongkrongannya, hanya tiga orang yang benar-benar mantap mengikuti Binlat karena memiliki keinginan kuat menjadi abdi negara.

“Yang ikut cuma tiga orang, termasuk saya. Saya pilih TNI AD, dua teman saya pilih TNI AL,” tuturnya.

Sebagai peserta Binlat Bintang Pengabdian angkatan ke-7, Aidil mengaku awalnya tidak memiliki gambaran maupun kesiapan yang cukup mengenai dunia pelatihan militer. Namun, berbagai materi yang diberikan oleh para pelatih secara perlahan membentuk mental, fisik, dan kedisiplinan para peserta.

Beragam pengalaman tak terlupakan ia rasakan selama mengikuti Binlat, salah satunya ketika para peserta dibangunkan secara mendadak pada dini hari sekitar pukul 03.00 WITA. Suara petasan di depan kamar sempat membuatnya panik dan mengira telah terjadi kebakaran.

Baca juga  Warga Lintas Agama Amankan Nyepi di Desa Kerta Buana Kutai Kartanegara

“Saya kaget sekali, langsung panik. Tapi ternyata itu bagian dari latihan supaya kami selalu siap dalam kondisi apa pun,” katanya.

Dalam situasi tersebut, para peserta langsung diarahkan untuk keluar dan menjalani latihan fisik sebagai bentuk pembiasaan terhadap kedisiplinan dan kepatuhan terhadap komando. Meski melelahkan, pengalaman itu justru menjadi pelajaran berharga bagi Aidil.

Perubahan pola hidup pun sangat ia rasakan. Jika sebelumnya terbiasa bangun pagi sekitar pukul 07.00 hingga 08.00 WITA, selama mengikuti Binlat ia harus bangun lebih awal, menjalani aktivitas terjadwal, serta membiasakan diri dengan pola hidup disiplin.

“Sekarang bangun pagi jam empat sudah biasa. Lebih disiplin dari sebelumnya,” ungkapnya.

Selain fisik dan mental, Binlat juga menguji kesiapan emosional para peserta. Rasa rindu terhadap keluarga mulai muncul ketika pelatihan memasuki hari-hari akhir. Aidil mengaku sempat terharu saat melakukan panggilan video dengan ibunya, namun ia berusaha menjadikan kerinduan tersebut sebagai penguat tekad.

Baca juga  Edi Damansyah Padukan Off Road dan Bakti Sosial di Desa Senoni

“Pas lihat orang tua lewat video call, rasanya kangen. Tapi ini bagian dari proses yang harus dijalani,” katanya.

Bagi Aidil, Binlat Bintang Pengabdian bukan sekadar pelatihan, melainkan ruang pembentukan karakter yang menumbuhkan kepercayaan diri dan kesiapan menghadapi tahapan seleksi berikutnya. Ia merasa lebih siap untuk mengikuti tes TNI AD yang akan datang.

Di akhir kegiatan, Aidil menyampaikan harapannya agar program Binlat Bintang Pengabdian dapat terus dilaksanakan dan diperluas kuotanya, sehingga semakin banyak generasi muda yang mendapatkan pembinaan serupa.

“Kegiatan ini sangat bermanfaat. Semoga ke depan pelatihannya bisa lebih lama dan pesertanya lebih banyak, supaya anak-anak muda bisa dibina untuk meraih cita-citanya,” pungkasnya.

Ara

Berita Lainnya